"No disaster strikes upon the earth or among yourselves except that it is in a register before We bring it into being - indeed that, for Allah , is easy -. In order that you not despair over what has eluded you and not exult [in pride] over what He has given you. And Allah does not like everyone self-deluded and boastful -." 57:22-23

Saturday, 27 October 2012

4367 ^^

Ehem! entry balas ini.
^__~


“Sahabat.”
Aku mengangguk kening. Kenapa?
“Janji pada aku dua perkara.” Zaman mengepal penumbuk dan mendekatkannya pada dada kiriku.
“Pertama, ingati aku dalam setiap doamu.”
Hati aku terasa sebak. Sinaran mata Zaman dan sentuhannya kepadaku membuatkan aku terasa seperti dia sedang meluahkan satu harapan yang amat besar kepadaku.
“Kedua?”
Zaman menarik nafasnya sebentar. “Kedua, kalau aku jatuh, hulurkanlah tanganmu kepadaku. Bila aku bengkok, kau luruskanlah aku.”
Hatiku terasa seperti ditusuk sesuatu yang tajam. Bicaranya menyengat. Besar sungguh harapannya. Takut sunggug dia akan kerosakan dirinya. Sememangnya, keimanan manusia ini akan diuji. Dan bagi yang telah merasai kemanisan iman itu, memang dia akan merasa sayang untuk melepaskannya. Mungkin, Zaman sedang merasakan sesuatu yang serupa. Takut teruji dengan sesuatu yang tidak dijangka.
“Sahabat.” Zaman berbicara lagi.
Aku memandang matanya. Tanpa suara, aku bertanya dengan mataku, kenapa?
“Jangan kau asingkan diriku daripada kehidupanmu.”
Ketika ini, airmata meleleh juga. Tangan Zaman yang menyentuh dada, kupegang dan kudekatkan tubuhnya kepada diriku. Dia kudakap seeratnya.
“Zaman, aku janji dengan kau. Janganlah kau risau macam ni. Kau buat aku sedih.”
Dan aku tahu Zaman sedang tersenyum, bersama air matanya yang meleleh juga. Entah mengapa aku dapat merasakannya.
“Tak sangka Saifullah yang gagah dan tegas ini, mampu melelehkan air matanya juga.”
“Kau peril aku?”
“Aku bercakap yang benar sahaja.”
Aku tersengih. Sempat lagi bercanda.
“Saifullah.”
“Ya.”
“Uhibbukafillah.”
Hati seperti disapa salju.
“Uhibbukafillah aidhan.”
_m/s 5-7, Terasing, Hilal Asyraf_

“Aisha, isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.
Aisha menganggukkan kepala.
“Aku juga sangat mencintaimu.  Dan aku tak ingin kita yang sekarang ini saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi.”
“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di akhirat justeru saling memusuhi?” tanyanya.
“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketaqwaan kepada Allah maka keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya justeru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil mahupun besar. Tentu kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat.  Seorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apa pun juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa.”
“Jika yang dilakukan adalah dosa, tentu akan menyebabkan keduanya bermusuhan kelak di akhirat. Sebab, mereka akan berseteru di hadapan pengadilan Allah s.w.t. Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Surah az-Zukhruf ayat 67: Orang –orang yang akrab saling mengasihi, pada hari itu sebahagiaannya menjadi musuh kepada sebahagiaan yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.”
“Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justeru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin tetap kita di akhirat menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan oleh Allah s.w.t. Aku tak menginginkan yang lain kecuali itu, isteriku. Hidup dan mati sudah ada ajalnya. Allah-lah yang menentukan, bukan keluarga Noura juga bukan hakim pengadilan itu. Jika benar kematianku ada di tali gantung itu bukan satu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian adalah satu iaitu kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah besarnya redha Tuhan kepadanya.”
“Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan dirimu di akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita tetap bersama dan tidak kehilangan adalah bertaqwa dengan sepenuh taqwa kepada Allah Azza Wa Jalla.
_m/s 436-437, Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy_

"Kerana ukuran kita tidak sama.'Umar memang bukan 'Uthman dan demikian juga sebaliknya."
Salim A. Fillah

"No words to describe
No pictures to potray
Having friends by my side
The best thing I would say."
@siskahaidan, 9 august 2012


nota tongkat belacu saya:
Segala apa yang terjadi, semoga ia mengukuhkan lagi ikatan ini.

nota tongkat double stand belacu saya:
4367 ini bermula dari Novel Bumi Cinta pada suatu hari di puzzlehouse pertengahan Mei 2011.

~bersangka baik dengan Allah setiap masa~

2 comments:

Semua Allah punya
Terima kasih pembaca
^_^