Seseorang pernah bertanya kepadaku,
‘Mengapa kau begitu suka menuliskan puisi?’
Kujawab,
‘Karena aku tetap ingin berkata banyak, saat bibirku enggan berucap.’
‘Mengapa kau begitu suka menuliskan puisi?’
Kujawab,
‘Karena aku tetap ingin berkata banyak, saat bibirku enggan berucap.’
Beberapa orang tak pernah ingin memahami
Bahwa puisi bukan tentang keluhan hati
Yang meringis
Dan memaksa setiap mata untuk menangis
Bukan
Bahwa puisi bukan tentang keluhan hati
Yang meringis
Dan memaksa setiap mata untuk menangis
Bukan
Aku begitu ingat
Kali pertama aku suka menulis kata demi kata
Yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang biasa
Kala itu
Aku ingin berkata banyak tanpa perlu bersuara
Betapa banyak hal yang enggan kuucap namun tetap ingin kuungkap
Dan mereka adalah tentang kau
Kali pertama aku suka menulis kata demi kata
Yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang biasa
Kala itu
Aku ingin berkata banyak tanpa perlu bersuara
Betapa banyak hal yang enggan kuucap namun tetap ingin kuungkap
Dan mereka adalah tentang kau
Maka,
Sampai kapanpun nanti
Jangan lagi sibuk bertanya
Mengapa tulisanku begitu puisi
Sampai kapanpun nanti
Jangan lagi sibuk bertanya
Mengapa tulisanku begitu puisi
Karena kau adalah tanya
Yang ingin kujawab dengan sederhana
Yang ingin kurindu dengan doa
Yang ingin kucinta lebih dari sekedar air mata.
Yang ingin kujawab dengan sederhana
Yang ingin kurindu dengan doa
Yang ingin kucinta lebih dari sekedar air mata.
Tangerang, 7 Februari 2014
- Tia Setiawati Pakualam
*************************
Maka
Mengapakah tulisanku adakala begitu puitis
Kerana berterus terang kadang bukan caranya aku
Namun berkias-kias itu bagi menutup gusar dan malu
03051435
~bersangka baik dengan Allah setiap masa~
No comments:
Post a Comment
Semua Allah punya
Terima kasih pembaca
^_^